SELAMAT DATANG DI BLOG PANGERAN MASJID

YESUS 7

Yesus (as) Menyampaikan Ajaran,
dan Kesulitan yang Dia Hadapi

Pada waktu Yesus (as) diutus, Bani Israel berada dalam kesulitan puncak, baik masalah politik maupun ekonomi. Di satu sisi, ada beberapa tindakan kejam yang mengakibatkan kesedihan pada masyarakat, dan di sisi lain terdapat ketidaksepakatan keyakinan dan sekte yang mengakibatkan kehidupan menjadi sulit. Di bawah kondisi yang sedemikan itu, umat manusia benar-benar membutuhkan suatu jalan keluar.

Sang Juru Selamat yang dinantikan umat setelah waktu yang lama adalah Yesus (as). Atas kehendak Allah, Yesus (as) dapat berbicara ketika masih berada dalam buaian dan kemudian memberitahukan kepada umat manusia bahwa Al-Masih (Sang Juru Selamat) yang mereka nantikan telah tiba. Yang terjadi kemudian, banyak yang menaruh harapan kepadanya untuk mendapatkan petunjuk darinya.

Walaupun demikian, ada juga beberapa orang tidak menerima Yesus (as). Para pendukung kekafiran pada saat itu, khususnya, menganggapnya benar-benar suatu ancaman bagi keberadaan mereka. Karenanya, mereka membuat rencana-rencana untuk membunuhnya dengan segera ketika mereka mendengar kabar tentangnya. Dikarenakan kecemasan hati mereka, rencana-rencana mereka sebenarnya telah berakhir dengan kegagalan sejak awal. Akan tetapi, tetap saja hal tesebut tidak mampu menghentikan rasa permusuhan mereka kepada Yesus (as) dalam menjalankan misinya.

Meskipun demikian, mereka yang melakukan reaksi tehadapnya tidak terbatas pada kaum kafir saja. Selama periode tersebut, disebabkan beragam alasan, mayoritas para rabi Yahudi melakukan perlawanan terhadap Yesus (as) dengan anggapan bahwa dia melakukan penghapusan terhadap agama mereka. Tentu saja, dengan tindakan mereka tersebut, mereka telah menjadi bagian dari kaum kafir karena sikap oposisi mereka kepada seorang utusan Allah. Apa yang telah dilakukan oleh Yesus (as), sebenarnya hanyalah menyeru umat manusia kepada agama orisinal dan menghapus aturan-aturan yang salah yang diperkenalkan kepada kaum Yahudi oleh para rabi itu sendiri. Bani Israel mendistorsi agama mereka dengan melarang apa yang diperbolehkan oleh ajaran yang asli dan memperbolehkan apa yang dilarang olehnya. Dengan cara ini, mereka mengubah-ubah agama yang benar dari semua bid'ah yang dilakukan terhadapnya pada tahap selanjutnya. Yesus (as) menyeru kaumnya kepada Injil, yang mengandung ajaran Taurat yang diturunkan kepada Musa (as). Ayat Al-Qur'an yang menjelaskan ini adalah:

Dan (aku datang kepadamu) membenarkan Taurat yang datang sebelumku, dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu, dan aku datang kepadamu dengan membawa suatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu. Karena itu, bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. (Surat Ali Imran: 50)

Dalam ayat yang lain, Allah memberitahukan kepada kita bahwa Injil yang diturunkan kepada Yesus (as) merupakan satu tuntunan kepada jalan yang benar bagi mereka yang mempercayainya dan untuk menolong mereka membedakan antara yang benar dan yang batil. Ia juga merupakan sebuah kitab yang mengandung ajaran Taurat:

"Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi-nabi Bani Israel) dengan Isa putra Maryam, membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa."
(Surat al-Maa'idah: 46)

Para pemuka Bani Israel memberikan perhatian yang lebih besar kepada aturan-aturan yang telah menjadi tradisi dan meragukan apa yang dibawa oleh Yesus (as). Hal ini karena Yesus (as) tidak memberikan tekanan pada aturan-aturan tradisional, tetapi lebih menyeru manusia kepada ketaatan kepada Allah, penolakan terhadap dunia, keikhlasan, persaudaraan, dan kejujuran. Menghadapi suatu perbedaan pemahaman agama tersebut, kaum Yahudi merasa frustasi terhadap yang disampaikan oleh Yesus (as). Dalam Al-Qur'an, Allah memberikan catatan bagaimana Yesus (as) menyampaikan perintah-perintah Allah SWT:

Dan tatkala Isa membawa keterangan dia berkata, "Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa hikmat dan untuk menjelaskan kepadamu sebagian dari apa yang kamu berselisih tentangnya, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah (kepada)ku". Sesungguhnya Allah Dia-lah Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembahlah Dia, ini adalah jalan yang lurus. Maka berselisihlah golongan-golongan (yang terdapat) di antara mereka; lalu kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang zalim yakni siksaan hari yang pedih (kiamat). (Surat az-Zukhruf: 63-65)

Keikhlasan dan sikap yang berbeda yang dimiliki oleh Yesus (as) telah menarik perhatian manusia. Jumlah para pengikutnya semakin bertambah.



Kaum Yahudi Menganggap bahwa Mereka
Telah Membunuh Yesus (as)

Tidak diragukan, setiap orang terbiasa dengan dugaan bahwa bangsa Romawi telah menyalib Yesus (as). Sebagaimana dugaan tersebut, bangsa Romawi dan Yahudi telah menangkap Yesus (as) dan menyalibnya. Memang, seluruh umat Nasrani di dunia memiliki keyakinan bahwa Yesus (as) telah meninggal, tetapi kemudian akan kembali lagi dan naik ke surga. Akan tetapi, bila kita merujuk kembali kepada Al-Qur'an, kita mengetahui bahwa apa yang sebenarnya terjadi tidaklah seperti yang mereka yakini,

Dan karena ucapan mereka, "Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah", padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana".
(Surat an-Nisaa': 157-158)

Fakta yang disampaikan dalam Al-Qur'an kepada kita adalah jelas. Usaha-usaha bangsa Romawi, yang diprovokasi oleh bangsa Yahudi untuk membunuh Yesus (as), terbukti tidak berhasil. Kutipan yang dinyatakan dalam ayat di atas,

" ...tetapi (yang mereka bunuh) ialah orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka... "
menerangkan peristiwa yang sebenarnya terjadi. Yesus (as) tidaklah dibunuh, tetapi diangkat oleh Allah keharibaan-Nya. Selain itu, Allah menghela perhatian kita kepada fakta bahwa mereka yang membuat pernyataan yang bertentangan dengan ayat di atas tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang kebenaran. Di dalam ayat yang lain, Allah juga berfirman bahwa Dia-lah yang akan menarik Yesus (as) kembali dan Dia akan mengangkatnya kepada-Nya.

(Ingatlah) ketika Allah berfirman, "Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Akulah kembalimu, lalu Aku memutuskan di antaramu tentang hal-hal yang kamu selalu berselisih padanya". (Surat Ali Imran: 55)

Kita akan menganalisis arti aktual dari kata "menarik kembali" pada bab berikutnya. Serpihan bukti-bukti lainnya yang ada dalam Al-Qur'an tentang bahasan ini adalah ungkapan umum yang digunakan bagi kematian nabi-nabi lainnya. Ungkapan-ungkapan yang digunakan untuk kematian atau pembunuhan para nabi dalam Al-Qur'an adalah sangat jelas. Misalnya dalah surah an-Nisaa' ayat 155 terdapat satu contoh eksplisit. Ayat tersebut adalah:

"Maka (Kami lakukan terhadap mereka beberapa tindakan) disebabkan mereka melanggar perjanjian itu dan karena kekafiran mereka terhadap keterangan-keterangan Allah dan mereka membunuh nabi-nabi tanpa (alasan) yang benar dan mengatakan, 'Hati kami tertutup'. Bahkan, sebenarnya Allah telah mengunci mati hati mereka karena kekafirannya. Karena itu mereka tidak beriman kecuali sebagian kecil dari mereka".
Ungkapan yang digunakan untuk Yesus (as) dalam Al-Qur'an sangat jelas, "...padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka..." Pernyataan ini menekankan bahwa Yesus (as) tidak dibunuh, apa pun metode yang digunakan untuk melakukan tujuan tersebut.


Sumber : imam-al-mahdi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

untuk teman-teman yang punya saran dan kritik yang membangun disilakan untuk koment dibawah ini dengan cara BERI KOMENTAR SEBAGAI (pilih salah satu yang ada dalam kotak ) yakni ANONYMOUS

TITIK