SELAMAT DATANG DI BLOG PANGERAN MASJID
Link ke posting ini
Kesungguhan Khalifah Abu Bakar ra Menjaga Aqidah Umat

Pasca wafatnya baginda Rasulullah SAW muncul pikiran-pikiran dan usaha-usaha untuk melepaskan diri dari ketaatan dan kewajiban syar'i kepada negara. Sebut saja misalnya muncul pemberontakan kaum yang menolak membayar zakat. Mereka bersatu dengan kelompok pendukung munculnya nabi-nabi palsu seperti Syajah At Tamimiyah dan Tulaihah bin Khuwailid. Di antara nabi palsu yang terkenal adalah Musailamah al Kaddzab yang didukung oleh sekitar 41 ribu orang dari kalangan Bani Hanafiyah.

Melihat situasi yang begitu genting dan api pemberontakan yang begitu meluas, Khalifah Abu Bakar ra cepat mengambil keputusan untuk menindak tegas para pemberontak tersebut. Untuk itu beliau ra mengirim 11 pasukan dan melantik 11 orang panglima pasukannya untuk menumpas pemberontakan di 11 wilayah yang berbeda dalam waktu yang sama.

Kesebelas panglima tersebut dibekali surat ultimatum khalifah kepada para pemberontak yang isinya antara lain:

Allah berfirman:

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh Telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur” (QS. Ali Imran 144).

Telah sampai kepadaku berita bahwa di antara kalian ada sekelompok orang yang akan kembali murtad kepada agama lamanya setelah dia mengakui Islam dan mengamalkannya, karena merasa sombong terhadap Allah, jahil terhadap perintah-Nya, dan karena mengikuti ajakan setan. Allah berfirman:

“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, Maka anggaplah ia musuh(mu), Karena Sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Fathir 6).

Sesungguhnya aku mengutus kepada kalian panglima-panglimaku dengan pasukan yang terdiri dari kaum Muhajirin, Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Aku telah perintahkan agar mereka tidak menerima dari kalian kecuali iman kepada Allah, dan tidak memerangi kalian hingga mereka mengajak kalian kepada Allah Azza wa Jalla. Jika orang yang diseru tersebut memenuhi seruan utusanku ini dan mengakui serta beramal shalih, maka itulah yang diharapkan darinya dan dia akan dibantu, tapi jika orang yang diajak itu menolak maka hendaklah dia diperangi hingga ia mau kembali kepada syariat Allah.

......

Dengan surat ultimatum khalifah tersebut para panglima bisa mengatasi pemberontakan kaum murtadin. Sebagian mereka seperti Tulaihah kembali kepada Islam dan sebagian yang lain seperti Musailamah tewas terbunuh. Selanjutnya seluruh pengikut mereka yang masih hidup kembali ke pangkuan Islam.

Pelajaran yang bisa kita petik dari kisah di atas antara lain:

Pertama, Islam memiliki sistem penanganan yang efektif terhadap orang yang murtad. Jika mereka sendiri atau hanya beberapa orang, maka setelah diminta bertobat dan tidak mau kembali, orang-orang itu dihukum mati, berdasarkan hadits Nabi SAW: ”Siapa yang mengganti agama(Islam)nya, maka bunuhlah” (Sahih Bukhari Juz 10/211).

Jika mereka adalah kaum yang jumlahnya banyak dan memiliki kekuatan untuk memberontak, maka setelah diminta kembali tapi menolak, mereka diperangi.

Kedua, dengan sikap tegas di atas kemuliaan dan kemurnian Islam akan tetap terjaga dan mereka yang terlanjur murtad bisa diselamatkan dengan diminta kembali bertobat, kembali kepada Islam (ruju' ilal haq). Menjaga kemuliaan dan kemurnian Islam serta melindungi keselamatan aqidah umat Islam merupakan tanggung jawab penguasa muslim dimanapun dan kapanpun. Sebagaimana sabda Rasulullah saw.:

“Imam adalah laksana perisai, umat diperangi di belakangnya, dan berlindung kepadanya”.(Sahih Al Bukhari X/114).

Ketiga, sikap dan tindakan tegas seperti yang diambil oleh Khalifah Abu Bakar ra adalah sangat tepat sekalipun situasi kondisi negara kurang menguntungkan dengan banyaknya pemberontak yang konon mencapai sekitar 200 ribu orang pada waktu itu. Bahkan dalam kesempatan yang sama, Khalifah harus mengirim pasukan Usamah bin Zaid menghadapi Romawi. Pengiriman pasukan yang diamanatkan Rasulullah SAW itu sempat tertunda dengan wafatnya beliau. Namun dengan ketegasan dan kemantapan khalifah, akhirnya mobilisasi pasukan kaum muslimin justru mencapai kondisi puncak dalam kekuatan sehingga menimbulkan ketakutan kepada pihak musuh dan kaum pemberontak yang justru menganggap pasukan khalifah besar dan kuat sekali dan akhirnya pemberontakan mereka bisa dipadamkan. Jadi sikap tegas terhadap pemberontakan kaum murtad dan para nabi yang menistakan aqidah dan syariat Islam adalah tetap harus diambil sekalipun kondisi negara sedang kesulitan. Sebab, hal itu merupakan makar yang sangat berbahaya jika dibiarkan karena merusak sendi dasar umat dan negara.

Dengan ketegasan khalifah sebagai kepala negara dalam menjalankan sistem Islam dalam menangani kaum murtad dan orang-orang yang menolak membayar zakat yang bersekutu dengan para nabi palsu, maka agama ini terjaga hingga hari ini. Sudah saatnya umat dan negara hari ini bersatu padu dalam mewujudkan penerapan syariatnya sehingga mereka hidup aman dan sejahtera di atas landasan aqidah yang benar dan dengan hukum syariah yang diridlai Allah SWT. Wallahu a'lam! [muhammad al khaththath/www.suara-islam.com]

SABAR MENGHADAPI MUSIBAH

Link ke posting ini
Salah satu sifat yang harus dimiliki oleh seorang muslim adalah sabar taktala mendapatkan ujian atau musibah dari Allah SWT. Ujian yang diberikan oleh Allah kepada hambanya beragam macamnya. Bisa berupa kematian anggota keluarga yang dicintainya, hilang dan musnahnya harta benda yang dimilikinya akibat bencana alam, maupun kelaparan yang sedang melandanya. Semua ini adalah bentuk ujian dari Allah SWT, sebagaimana firman-Nya:

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.( yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun”. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. al-Baqarah [02]: 155-157).


Ujian itu diberikan oleh Allah SWT sebagai salah satu cara untuk mengetahui kadar keimanan seseorang. “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?. Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-Ankabut [29]: 2-3).

Artinya, seseorang maupun masyarakat tidaklah terbukti mereka beriman jika mereka tidak tahan terhadap ujian yang menimpanya.

Selain itu, ujian merupakan salah satu wujud kecintaan Allah terhadap suatu kaum. Hal ini dikabarkan oleh Rasulullah Saw dalam hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, “Sesungguhnya Allah Azza wa jalla jika mencintai suatu kaum, maka Allah akan memberikan cobaan kepada mereka. Barangsiapa yang sabar, maka dia berhak mendapatkan (pahala) kesabarannya. Dan barangsiapa marah, maka diapun berhak mendapatkan (dosa) kemarahannya.”

Kalau kita berkaca pada sejarah umat Islam, Rasulullah dan para sahabat adalah generasi yang mendapatkan ujian dan musibah yang sangat besar dari Allah SWT untuk menguji kadar keimanan mereka.

Salah satu contohnya adalah yang diceritakan oleh seorang sahabat bernama Saad bi Abi Waqas ra, ketika terjadi peristiwa pemboikotan kaum muslimin di Makah oleh kafir Qurays. Beliau berkata tentang keadannya saat kaum muslimin mendapatkan embargo ekonomi oleh warga Makkah. ”Aku keluar di suatu malam untuk kencing. Aku mendengar gemericing di bawah air kencing. Tiba-tiba ada sepotong kulit unta kering. Lalu kuambil dan ku cuci, kemudian ku bakar, lalu ku tumbuk dalam air dan ku makan, maka selama tiga hari dengan itu aku menjadi kuat.” Kelaparan yang menimpa kaum muslimin saat itu tidak menjadikan mereka berpaling dari Allah dan Rasul-Nya.

Para sahabat benar-benar menjalankan apa yang diperintahkan oleh Allah SWT dalam al-Quran. “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah [02]: 153).

Mereka juga memahami bahwa apapun yang menimpa mereka baik itu berupa musibah maupun nikmat yang datang dari Allah SWT itu merupakan sesuatu yang baik bagi mereka.

Rasulullah Saw bersabda: ”Aku kagum terhadap urusan orang yang beriman, karena seluruh urusannya merupakan kebaikan baginya. Jika mendapatkan kesenangan ia bersyukur, maka syukur itu adalah kebaikan baginya. Jika ditimpa kesulitan ia bersabar, maka sabar itu merupakan kebaikan baginya. Hal seperti ini tidak akan didapati pada seeorang kecuali orang yang beriman” (HR. Muslim).

Sikap seperti inilah yang saat ini harus dimiliki oleh kaum muslimin di Padang, Sumatera Barat dan wilayah lain yang beberapa waktu lalu mendapatkan musibah sebagai bentuk ujian dari Allah SWT. Yakinlah bahwa jika mereka menerima musibah itu dengan ikhlas dan tabah, maka pasti ujian itu akan menjadi penyebab Allah melenyapkan kesalahan-kesalahannya di hari kiamat. Tentu, bagi mereka yang meninggal semoga amal kebaikannya diterima oleh Allah SWT.

Momentum ini juga dapat digunakan oleh kaum muslimin yang tidak mendapatkan musibah untuk bersama-sama menggalang segala upaya untuk meringankan penderitaan yang dialami oleh saudara-saudaranya itu sebagai wujud dari ukhuwah Islamiyah. Mereka harus memberikan bantuan moril dan materiil secara maksimal untuk para korban bencana.

Terakhir, yang tidak kalah pentingnya adalah tanggung awab penguasa untuk melayani urusan rakyatnya yang sedang ditimpa bencana. Pemerintah bertanggungjawab penuh untuk membantu mereka keluar dari berbagai masalah yang diakibatkan oleh terjadinya bencana. Sebab Rasulullah Saw bersabda ”Pemimpin adalah penggembala, ia akan dimntai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. (HR. Bukhari Muslim).

Mudah-mudahan kita bisa mengambil ibrah dari bencana ini untuk segera kembali bertaubat kepada Allah dan semakin mendekatkan diri kita kepada-Nya. Sebab diakui atau tidak musibah ini selain sebagai ujian, juga peringatan (tadzkirah) kepada manusia agar tidak terus tenggelam ke dala jurang kemaksiatan. Wallahu a’lam. (shodiq ramadhan)

SUMBER : SUARA-ISLAM ONLINE

Membuat Film Dokumenter / Film Indie

Link ke posting ini
Dalam membuat film dokumenter yang kita rekam harus berdasarakan fakta yang ada. Jadi film dokumenter adalah suata film yang mengandung fakta dan subjektivitas pembuatnya. Artinya apa yang kita rekam memang berdasarkan fakta yang ada, namun dalam penyajiannya kita juga memasukkan pemikiran-pemikiran kita.

Dalam membuat film dokumenter ada langkah-langkah dan kiat bagaimana film yang kita produksi disenangi oleh penonton dan tidak memakan biaya yang besar saat memproduksinya.. Langkah yang harus kita tempuh dalam membuat film dokumenter adalah pertama, menentukan ide.
Ide dalam membuat film dokumenter tidaklah harus pergi jauh-jauh dan memusingkan karena ide ini bisa timbul dimana saja seperti di sekeliling kita, di pinggir jalan, dan kadang ide yang kita anggap biasa ini yang menjadi sebuah ide yang menarik dan bagus diproduksi. Jadi mulailah kita untuk bepfikir supaya peka terhadap kejadian yang terjadi.

Kedua, menuliskan film statement. Film statement yaitu penulisan ide yang sudah ke kertas, sebagai panduan kita dilapangan saat pengambilan Angel. Jadi pada langkah kedua ini kita harus menyelesaikan skenario film dan memperbanyak referensi sehingga film yang kita buat telah kita kuasai seluk-beluknya.

Ketiga, membuat treatment atau outline. Outline disebut juga script dalam bahasa teknisnya. Script adalah cerita rekaan tentang film yang kita buat. script juga suatu gambar kerja keseluruhan kita dalam memproduksi film, jadi kerja kita akan lebih terarah. Ada beberapa fungsi script. Pertama script adalah alat struktural dan organizing yang dapat dijadikan referensi dan guide bagi semua orang yang terlibat. Jadi, dengan script kamu dapat mengkomunikasikan ide film ke seluruh crew produksi. Oleh karena itu script harus jelas dan imajinatif. Kedua, script penting untuk kerja kameramen karena dengan membaca script kameramen akan menangkap mood peristiwa ataupun masalah teknis yang berhubungan dengan kerjanya kameramen. Ketiga, script juga menjadi dasar kerja bagian produksi, karena dengan membaca script dapat diketahui kebutuhan dan yang kita butuhkan untuk memproduksi film. Keempat, script juga menjadi guide bagi editor karena dengan script kita bisa memperlihatkan struktur flim kita yang kita buat. Kelima, dengan script kita akan tahu siapa saja yang akan kita wawancarai dan kita butuhkan sebagai narasumber.

Keempat, mencatat shooting. Dalam langkah keempat ini ada dua yang harus kita catat yaitu shooting list dan shooting schedule. Shooting list yaitu catatan yang berisi perkiraan apa saja gambar yang dibutuhkan untuk flim yang kita buat. jadi saat merekam kita tidak akan membuang pita kaset dengan gambar yang tidak bermanfaat untuk film kita. Sedangkan shooting schedule adalah mencatat atau merencanakan terlebih dahulu jadwal shooting yang akan kita lakukan dalam pembuatan film.

Kelima, editing script. Langkah kelima ini sangat penting dalam pembuatan film. Biasa orang menyebutnya dengan pasca produksi dan ada juga yang bilang film ini terjadinya di meja editor. Dalam melakukan pengeditan kita harus menyiapkan tiga hal adalah menbuat transkip wawancara, membuat logging gambar, dan membuat editing script. Dalam membuat transkipsi wawancara kita harus menuliskan secara mendetail dan terperinci data wawancara kita dengan subjek dengan jelas.

Membuat logging gambar ini maksudnya, membuat daftar gambar dari kaset hasil shuuting dengan detail, mencatat team code-nya serta di kaset berapa gambar itu ada. Terakhir ini merupakan tugas filmmaker yang membutuhkan kesabaran karena membuat editing scrip ini kita harus mempreview kembali hasil rekaman kita tadi ditelevisi supaya dapat melihat hasil gambar yang kita ambil tadi dengan jelas. Dengan begitu kita akan mebuat sebuah gabungan dari Outline atau cerita rekaan menjadi sebuah kenyataan yang dapat menjadi petunjuk bagi editor.

source : http://myhobbyblogs.com/

TITIK